Minggu, 27 Mei 2012

PEMBERITAAN MEDIA TERKAIT "KOMUNITAS AIR IN ARTS'


Pemberitaan Pers  Terkait ”Komunitas Air In Arts”

  1.  Harian Waspada
  1. “Benang Putus” Utusan SUMUT ke FFI: Waspada, 25 Maret 2002
  2. Pentas Monolog ”Coro” Agus Susilo, Totalitas  Teater Dengan Bingkai Warna Lokal; Waspada 31 Oktober 2010
  3. MCAF 2010; Berlindung  pada label kontemporer,, Waspada, Minggu/13 Juni 2010.

  1. Harian Analisa
  1. Menertawakan Diri Bukan Karena Lucu: Tuyul Mafia; Analisa 13 Mei 2007 Perkembangan Seni dan Budaya Sumut (I)
  2. Berbicara Teater Tidak Mengenal Waktu dan Ruang: Analisa 3 Mei 2009
  3. Medan Contemporary Arts Festival: Intro 21 Mei 2010
  4. MCAF 2010, 4 dan 5 Juni 2010; Metro 24, Senin 31 Mei 2010, Sabtu 29 Mei 2010, Minggu 30 Mei 2010
  5. MCAF 2010: Analisa Minggu
  6. Seni Memulihkan Ben M Pasaribu: Analisa 21 Nopember 2010
  7. Sumangot Tu Ben M Pasaribu: Analisa 21 Nopember 2010
  8. Medan Contemporary Art seninya anak muda; Analisa 13 Juni 2010
  9. Geliat Seni di Medan; Analisa 30 Mei 2010
  10. Dari PPSS XIII di Bandar Lampung; Bencana Ben M Pasaribu dan Pan Sumatera; Analisa 14 Nopember 2010
  11. Dari Mimbar Teater Indonesia; Putu Wijaya Salut pada Taman Budaya Solo: Analisa 17 Oktober 2010
  12. Sastra Indonesia Kontemporer; 14 Nopember 2010

  1. Harian Medan Bisnis
a.       Ars Dance Theatre Gelar Inovasi 3: Medan Bisnis 12 April 2009
b.      The Sense of Music di TBSU: Medan Bisnis 25 Oktober 2009
c.       MCAF dan Pekarya Muda Medan; Medan Bisnis, 2 Mei 2010
d.      Malam Seni Untuk Kesembuhan Be; Medan Bisnis 21 Nopember 2010
e.       Surat untuk Ben M Pasaribu; Medan Bisnis 14 Nopember 2010
f.        The Sense of Music Gado-gado Musik Yang Demokratis: Medan Bisnis 15 November 2009
g.      Diskusi Warung Bersama Tawarkan Seni Mengolah isu; Medan Bisnis 16 Januari 2011

  1. Majalah Gong
a.       Menggugat Kemanusiaan Lewat ”Inovasi 3”: Gong, No.112/X/2009
       Memahami Subkultur Musik Batak: Gong 117/X/2009
b.      17 Tahun Citra Budaya, Persembahan “Ekspresi Cibud” Dengan Berbagai Lomba: Gaya Medan 8 Agustus 2009
c.       Composer Medan di “Sense of Music”: Gaya Medan 9 Oktober 2009
d.      The Sense of Music: Bangkitkan Budaya Batak 24 jam 27 Oktober 2009
e.       The Sense Of Music: 24 jam 30 Oktober 2009
f.        The Sense of Music Pukau Penonton: 24 jam 4 November 2009

  1. Harian Sumut Pos
  1. D’lick Theatre Team Gelar Festival Teater Pelajar: Sumut pos 15 Januari 2006
  2. Inovasi 3 ala Air In Art: Sumut Pos 10 Mei 2009
  3. Composer Muda Bicara Musik: The Sense of Music 2 November: Sumut Pos 27 Oktober 2009
  4. MCAF 2010: Analisa MCAF digelar; Sumut POS, Rabu 19 Mei 2010 MCAF hadir 5 Juni; Intro, Jum’at 21 Mei 2010
  5. Pekarya Muda Medan Gelar MCAF: Sumut Pos 27 April 2010
  6. Gagasan Pembawa Harum; Sumut POS
  7. Doa bagi Ben M Pasaribu; Sumut POS 14 Nopember 2010
  8. Warung Diskusi Digagas; Sumut POS, 2 Januari 2011

  1. Harian Warta Kita
  1. D’lick Theatre Gelar Festival Teater Pelajar: Wartakita Medan 17 Januari 2006
  2. Seni Sebagai Jembatan Kebersamaan; Warta Kita Medan

  1. Harian Kompas
  1. Dengarkanlah Perempuan Berbicara: Kompas 5 Februari 2007
  1. Harian Seputar Indonesia
a.       Sabtu Ketawa, Parade Teater Ala Kampusi Sebulan Ngakak Di Taman BudayaTarian Etnis Daerah yang Tergerus Budaya Hedonis: Seputar Indonesia 26 Juni 2008

  1. Harian Metro
  1. Funland Mikie Holiday Suguhkan Teater Cowboy: Metro 5 April 2010
  2. Karya Seni Anak Medan; Metro 24 4 Juni 2010

  1. Majalah Glamor
  1. Hardoni Sitohang Lestarikan Budaya Batak: Glamour 9 Juni 2010

  1. Harian Pos Kota
  1. Malam Apresiasi Pekarya  Medan Proses; Pos Kota Sumatera 26 April 2010

  1. Harian The Jakarta Pos
  1. Medan Trope revives intensity of live theatre performances: The Jakarta Pos

Kamis, 24 Mei 2012

RILIS PERS TEATER SUPER PRAPANCA



Teater Rumah Mata “Pekarya SUMUT Bicara 2012”
Drama Anak SUPER PANCA (Episode: Para Balita Pemberani)
Karya/sutradara: Agus Susilo
Belajar Menjadi Indonesia
            Agenda Teater Rumah Mata dalam Pekarya Sumut Bicara 2012 selanjutnya (http/airinarts.blogspot.com) ialah pagelaran drama anak SUPER PANCA (Episode: Para Balita Pemberani), karya/sutradara: Agus Susilo, Kamis/31 Mei 2012, pukul 15.00 Wib dan 19.30 Wib di Sanggar Tari Taman Budaya Sumatera Utara. Pagelaran ini didukung Komunitas Air In Arts bersama berbagai disiplin komunitas seni lainnya (PLOT, Ars Dance Theatre, Republik Rupa, Warung Diskusi Bersama, D’Tradisi, Kendi Pro).
Naskah ini mengangkat cerita tentang anak-anak sekolah yang tidak memiliki karakter bangsa hingga mudah dipengaruhi. Ratu Pratala Pritili sebagai simbolisasi kekuatan asing bahagia karena hampir seluruh rencananya menguasai pikiran anak-anak  berhasil diwujudkan. Namun di balik kebahagiaannya itu ada hal yang membuatnya tidak bisa tidur nyenyak; kemunculan Super Panca. Akhirnya dia mengutus pasukannya untuk mencari Super Panca dan menghabisinya.
            Di suatu sekolah, murid-muridnya mengalami krisis karakter. Mereka tidak suka belajar Pancasila, menyanyikan lagu Indonesia Raya, dan memahami Sumpah Pemuda.
Hampir seluruh muridnya mogok belajar! Namun, masih ada seorang murid yang memiliki karakter kuat, yaitu Maysarah. Dia optimis ada harapan di masa depan untuk mengatasi krisis karakter anak-anak Indonesia.
            Benih-benih Super Panca muncul dari sebuah dusun yang jauh. Mereka masih balita. Polos dan sederhana. Kemauan mereka belajar sangat kuat, terutama belajar menjadi Indonesia. Pasukan Ratu Pratala Pritili berusaha menculik mereka. Dengan gagah berani para balita ini menghadapi pasukan Ratu Pratala Pritili. Semangat Pancasila mereka berkobar. Pada akhirnya para balita ini memukul mundur pasukan Ratu Pratala Pritili. Ratu Pratala Pritili semakin bad mood dan pusing pusing pusing.
Pementasan Drama Anak SUPER PANCA (Episode: Para Balita Pemberani) ini didukung seluruh komunitas seni yang terlibat dalam event ”Pekarya SUMUT Bicara 2012” dengan penata panggung: Adie Damanik, Penata cahaya: Budi Utomo, Penata kostum: Sidratul Muntaha, Penata musik: Ade Jabal dan Stage manager: Ojax Manalu.





Rabu, 23 Mei 2012

TERBIT DI HARIAN ANALISA, MINGGU 13 MEI 2012


Oleh: Darwis Rifai Harahap. Sejak kanak-kanak manusia sudah senang menari. Dalam gendongan sambil menyanyikan nina bobo, seorang ibu yang akan menidurkan bayinya akan terus menari dan menari sambil menyanyi. Begitu juga hewan, seperti burung, kupu-kupu, pepohonan yang ditiup angin di atas perbukitan, di tepi pantai yang ada pepohonan nyiur, akan terlihat melambai-lambai dengan gemulainya menarikan tarian alam diiringi deburan ombak yang berkejaran memukul-mukul dinding karang di tengah lautan. Semuanya menari. Tarian alam yang sangat dahsyat yang dapat menghibur dan mengobati kegundahan dikala manusia berada dalam duka yang teramat mendalam.
Seorang seniman tari kala melihat deburan ombak di tepi pantai, atau melihat sekawan burung yang terbang berkelompok di angkasa dalam formasi yang panjang, oleh seniman tari, apa yang dia lihat dan apa yang dia rasakan menjadi sumber ilham yang tak ada habisnya untuk menciptakan gerak tari guna dihidangkan kepada khalayak penonton di sebuah gedung pertunjukan. 

Di Sumatera Utara banyak nama seniman tari yang telah menciptakan tarian yang fenomenal. Seperti alm. Sauti yang menciptakan tari Serampang 12, Ahmad Setia Nasution ( pak Badu Polisi) yang menciptakan Tor Tor Modern, Taralamsah Saragih, Jose Rizal Firdaus yang menciptakan tarian Persembahan, Zikri dan Zapin Menjelang Magrib, adalah satu-satunya murid Sauti yang masih eksis di Sumatera Utara. Lewat tangan Jose Rizal Firdaus seni tari berkembang pesat di Sumatera Utara. Memang ada nama-nama lain yang andilnya juga cukup besar dalam mengembangkan seni tari Melayu di Sumatera Utara, seperti Ani Trisna , Rustam Effendi di Tebing Tinggi, Asmara Dhana, Dilli, Mancu dan yang lainnya, namun yang rutin mampu menjadikan seni tari sebagai seni pertunjukan, ternyata masih langka. Yang ada baru tari sebagai tari hiburan. Jadi yang namanya penonton tari, di Sumatera Utara dapat dipastikan memang belum ada.

Malam minggu pada bulan April di minggu ke dua lalu, di Taman Budaya Medan sedang di gelar pertunjukan tari yang sengaja dikemas sebagai seni pertunjukan. Malam itu penonton memang tidak banyak. Kursi banyak kosong. Menurut Jaya Arjuna, yang kebetulan duduk disebelah penulis, menonton begitu antusias dan tak henti-hentinya memberikan aplus. Ir, Jaya Arjuna, adalah seniman teater dan penulis, begitu memuji pertunjukan tari yang ditata oleh Mateus Suwarsono. Jelas sekali Ir. Jaya Arjuna sangat puas menonton tarian yang ada di hadapannya, walau sambil menonton dia mengkomentari pencahayaan yang membuat para penari terlihat kerdil-kerdil dari kursi penonton.Yang dikomentari teman saya itu memang benar.

Andai saja cahaya ada dari bawah, suasana di atas panggung pasti akan membuat tubuh penari akan terlihat lebih gagah. Tari yang diilhami dari tanah Batak itu memang sarat dengan suasana kekinian dan sejarah masa lalu tanah Batak. Orang Jawa yang bernama Mateus Suwarsono ini, telah memadukan gerak tradisi ke dalam suasana kontemporer. Musik yang begitu meriah, membawa suasana batin penonton kemasa lalu, kemasa dimana alam tanah Batak dengan Danaunya yang begitu indah belum tercemar karena dirusak oleh manusia. Dengan disandingkannya irama zapin dan gerak perang antara sorban dan ulos, penulis langsung teringat kisah Tuanku Rao, masuknya pasukan Padri ke tanah Batak dan Angkola.

Secara garis besar, apa yang disajikan memang sudah cukup artistik, namun buat penulis sajian itu terlalu panjang walau tidak terkesan bertele-tele sebagai seni pertunjukan. Bila saja bebarapa adegan lebih dipadatkan, seperti pesan-pesan yang terlalu verbal digantikan dengan bahasa gerak, karena ini tari. Kesan pertunjukan yang molor mungkin dapat dari saja para penari benar-benar menghayati gerak tari yang ditarikannya, suasana magis pasti akan lebih terasa dan lebih mencekam.

Andai saja kesalahan-kesalahan kecil seperti tidak turunnya layar untuk memproyeksikan gambar-gambar (layar terpaksa diturunkan menggunakan tangga), pencahayaan yang masih belum tepat pada sasaran dan bloking, hanya pada musik kekuatan yang datang untuk keseluruhan pertunjukan malam itu. Musik yang membuat penonton dapat terpaku untuk duduk berlama-lama menikmati sajian tari masa kini itu.

Walau belum sempurna betul, malam itu sebahagian penonton telah dapat menerima apa yang telah disajikan. Mudah-mudahan tari sebagai seni pertnjukan dapat berlanjut. Setelah Mateus siapa lagi?

2012 drh..

OPERA BATAK TAMPIL DI UI

DOKUMENTASI..