Rabu, 23 Mei 2012

TERBIT DI HARIAN ANALISA, MINGGU 13 MEI 2012


Oleh: Darwis Rifai Harahap. Sejak kanak-kanak manusia sudah senang menari. Dalam gendongan sambil menyanyikan nina bobo, seorang ibu yang akan menidurkan bayinya akan terus menari dan menari sambil menyanyi. Begitu juga hewan, seperti burung, kupu-kupu, pepohonan yang ditiup angin di atas perbukitan, di tepi pantai yang ada pepohonan nyiur, akan terlihat melambai-lambai dengan gemulainya menarikan tarian alam diiringi deburan ombak yang berkejaran memukul-mukul dinding karang di tengah lautan. Semuanya menari. Tarian alam yang sangat dahsyat yang dapat menghibur dan mengobati kegundahan dikala manusia berada dalam duka yang teramat mendalam.
Seorang seniman tari kala melihat deburan ombak di tepi pantai, atau melihat sekawan burung yang terbang berkelompok di angkasa dalam formasi yang panjang, oleh seniman tari, apa yang dia lihat dan apa yang dia rasakan menjadi sumber ilham yang tak ada habisnya untuk menciptakan gerak tari guna dihidangkan kepada khalayak penonton di sebuah gedung pertunjukan. 

Di Sumatera Utara banyak nama seniman tari yang telah menciptakan tarian yang fenomenal. Seperti alm. Sauti yang menciptakan tari Serampang 12, Ahmad Setia Nasution ( pak Badu Polisi) yang menciptakan Tor Tor Modern, Taralamsah Saragih, Jose Rizal Firdaus yang menciptakan tarian Persembahan, Zikri dan Zapin Menjelang Magrib, adalah satu-satunya murid Sauti yang masih eksis di Sumatera Utara. Lewat tangan Jose Rizal Firdaus seni tari berkembang pesat di Sumatera Utara. Memang ada nama-nama lain yang andilnya juga cukup besar dalam mengembangkan seni tari Melayu di Sumatera Utara, seperti Ani Trisna , Rustam Effendi di Tebing Tinggi, Asmara Dhana, Dilli, Mancu dan yang lainnya, namun yang rutin mampu menjadikan seni tari sebagai seni pertunjukan, ternyata masih langka. Yang ada baru tari sebagai tari hiburan. Jadi yang namanya penonton tari, di Sumatera Utara dapat dipastikan memang belum ada.

Malam minggu pada bulan April di minggu ke dua lalu, di Taman Budaya Medan sedang di gelar pertunjukan tari yang sengaja dikemas sebagai seni pertunjukan. Malam itu penonton memang tidak banyak. Kursi banyak kosong. Menurut Jaya Arjuna, yang kebetulan duduk disebelah penulis, menonton begitu antusias dan tak henti-hentinya memberikan aplus. Ir, Jaya Arjuna, adalah seniman teater dan penulis, begitu memuji pertunjukan tari yang ditata oleh Mateus Suwarsono. Jelas sekali Ir. Jaya Arjuna sangat puas menonton tarian yang ada di hadapannya, walau sambil menonton dia mengkomentari pencahayaan yang membuat para penari terlihat kerdil-kerdil dari kursi penonton.Yang dikomentari teman saya itu memang benar.

Andai saja cahaya ada dari bawah, suasana di atas panggung pasti akan membuat tubuh penari akan terlihat lebih gagah. Tari yang diilhami dari tanah Batak itu memang sarat dengan suasana kekinian dan sejarah masa lalu tanah Batak. Orang Jawa yang bernama Mateus Suwarsono ini, telah memadukan gerak tradisi ke dalam suasana kontemporer. Musik yang begitu meriah, membawa suasana batin penonton kemasa lalu, kemasa dimana alam tanah Batak dengan Danaunya yang begitu indah belum tercemar karena dirusak oleh manusia. Dengan disandingkannya irama zapin dan gerak perang antara sorban dan ulos, penulis langsung teringat kisah Tuanku Rao, masuknya pasukan Padri ke tanah Batak dan Angkola.

Secara garis besar, apa yang disajikan memang sudah cukup artistik, namun buat penulis sajian itu terlalu panjang walau tidak terkesan bertele-tele sebagai seni pertunjukan. Bila saja bebarapa adegan lebih dipadatkan, seperti pesan-pesan yang terlalu verbal digantikan dengan bahasa gerak, karena ini tari. Kesan pertunjukan yang molor mungkin dapat dari saja para penari benar-benar menghayati gerak tari yang ditarikannya, suasana magis pasti akan lebih terasa dan lebih mencekam.

Andai saja kesalahan-kesalahan kecil seperti tidak turunnya layar untuk memproyeksikan gambar-gambar (layar terpaksa diturunkan menggunakan tangga), pencahayaan yang masih belum tepat pada sasaran dan bloking, hanya pada musik kekuatan yang datang untuk keseluruhan pertunjukan malam itu. Musik yang membuat penonton dapat terpaku untuk duduk berlama-lama menikmati sajian tari masa kini itu.

Walau belum sempurna betul, malam itu sebahagian penonton telah dapat menerima apa yang telah disajikan. Mudah-mudahan tari sebagai seni pertnjukan dapat berlanjut. Setelah Mateus siapa lagi?

2012 drh..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar