Minggu, 26 Februari 2012

OBSERVASI MCAF II


catatn penting observasi MCAF II menurut para narasumber: (Jaya Arjuna) medan merupakan kota paling unik, terdiri dari berbagai macam etnis. Yang pertama kali datang ke medan ialah Cina, diikuti keleng, arab dan Belanda. Orientasi mereka ke medan ialah bisnis. Kemudian masul lagi suku Minang dan Aceh. kedua etnis ini juga berorientasi bisnis. lalu didatangkanlah suku Jawa sebagai kuli perkebunan. Akhirnya medan menjadi tempat bisnis, melupakan budaya menguatkan keamanan. Untuk selingan ditemukanlah permainan trup. Trup juga permainan yang unik, karena angka tertinggi adalah 3 yang artinya Hukum. Filosofisnya hukum merupakan kekuatan tertinggi. Karena banyak melahirkan sastrawan, musikus, perupa dan teaterawan Medan disejajarkan sebagai kota budaya. Sekarang Medan berubah menjadi kota Buaya. Maka muncul istilah buaya Deli. filosofis buaya ialah: tangkap, pelintir, telan. Perubahan ini terjadi karena tidak ada satu pejabat pun yang peduli pada kebudayaan. Serta minimnya infrastruktur pendidikan. Diperparah dengan persfektif hidup masyarakat Medan yang berorientasi pada ekonomi, maka hilanglah budaya waaupun banyak etnis menghuni Medan. Mereka hanya berpikir "proyek" Dahulu, Medan sempat punya gedung kesenian, yaitu di jalan Bali. Akibat keganasan pejabat maka habislah gedung kesenian itu. kesimpulan, ORANG MEDAN MASIH PRIMITIF. BUKTINYA TIDAK MENGHARGAI SEJARAH. salah satu contoh Pohon TREMBESI di lapangan merdeka dihabisi pelan-pelan. Akibatnya banyak orang biadab menghuni kota Medan yang cara berpikirnya: Dapat, Tangkap, Makan. Sama seperti buaya. Nah, bagaimana pula para pekarya MCAF II yang cara berpikirnya "proyek" juga? yang menomor seratus kan suatu proses dan "riset" untuk menemukan ide kreatif yang berpijak di bumi? Apakah para pekarya seperti itu punya tanggung jawab moral? Ataukah mereka berkarya hanya sekedar selingan mengisi waktu luang? jawabnya, ada di nurani kesenian kita masing-masing. salam budaya

CATATAN OBSERVASI MCAF II


Catatan penting observasi MCAF II dari nara sumber: (Mateus Suwarsono). Gerakan seni kontemporer berpusar di Jawa dan Bali, karena disana infrastrukturnya lengkap. salah satu syarat terpenting ialah memiliki institusi seni. tokoh seni kontemporer tersebut misalnya; (alm) Harry Roesly (musik), Sapto Raharjo (Sastra), Sardono W. Kusumo (perintis seni kontemporer di Indonseia), Sulistio tirtokusumo, Didi Ninik towok. Dalam bentuk festival: Art Summit, Indonesia Dance Festival. Tokoh kontemporer dari Sumatera: Erry Mefri (Padang, mengangkat idiom minang), Tom ibnur (Jambi, mengangkat idiom Zapin Melayu), (alm) Ben.M Pasaribu, Eru Cakra Mahameru (musik), Teater satu Lampung. Gerakan seni kontemporer di Medan terkendala minimnya infrastruktur, jalur pendidikan seni formal tidak ada, rata-rata pekarya seninya otodidak. Komunitas teater di Medan pun dalam proses kreatif serba tanggung, nggak jelas kelaminnya. komunitas tari pun begitu, para pekaryanya miskin ide. Kendala lainnya ialah referensi pertunjukan sangat kurang. pekarya medan jarang terlibat event di luar medan, jarang didatangi pekarya dari luar medan, orientasi berkarya belum menjadi suatu bagian utama dalam proses berkarya. Sejarah kontemporer itu berasal dari pendobrakan tradisi balet di eropa. kontemporer yaitu: suatu bentuk kreatifitas kesenian merujuk pada kreatifitas kesenian berbasis pada tradisi atau pun non tradisi. tradisi yaitu suatu bentuk seni warisan. kontemporer bukan suka hati, tapi jangan buat takut untuk berkarya. Maka, kalau sudah begini seharusnya para pekarya MCAF II harus memperbanyak referensi. Salah satunya observasi lapangan, sangat vital....weleh-weleh...malah separuh pun tak ada. Apa jadinya MCAF II nanti? Apakah semangat menjadikan MCAF sebagai gerakan seni kontemporer sebatas mimpi? Hanya semangat kreatifitas saudara-saudara yang mampu menjawabnya.

Rabu, 01 Februari 2012

REPUBLIK RUPA


URBAN STREET ART
REPUBLIK RUPA II
LATAR BELAKANG KEGIATAN
Pameran urban street art pada tanggal 26 juni sampai 3 juli 2011 di ruang pameran Taman Budaya Sumatera Utara Medan merupakan pameran yang memiliki tema menggores rupa membangun wacana. Acara pameran ini telah dilaksanakan dengan menampilkan karya-karya perupa muda yang biasa d kategorikan dengan beberapa jenis karya yakni : graffitty, mural, dan stencil. Pameran yang dibuka dengan kata sambutan oleh salah satu seniman kota medan yakni Togu Sinambela dari komunitas galeri Payung Teduh dilanjutkan dengan performance art dari komunitas grafitty ME&ART sebelum acara pameran dibuka, dibarengi oleh live performance music Disc jokie (DJ) oleh DJ Padsa dan DJ Deva , sehingga semakin membangkitkan semangat perupa muda. Setelah para penikmat seni jalanan (street art) memasuki ruangan pameran para penikmat seni juga dihibur oleh pertunjukan musik blues oleh Gery feat Givary Owny. Pameran dibuka selama satu minggu dan pameran ini juga mengadakan diskusi yang dibawakan oleh seniman atau yang biasa disebut sebagai sastrawan yakni Thompson Hs. Dan seniman kota medan Togu Sinambela tentang geliat seni jalanan di kota medan. Para pekarya yang mengikuti kegiatan pameran street art ini adalah Lambok, Adie damanik, Gery paulandika, Yanal Desmon, Hendra siahaan, Renjaya Siahaan, Maria, devha, Sutan Tobing, redot ebe,rizal, benheri gultom, kombet, mangihut.
Kali ini Republik Rupa II yang mencoba Membangun semangat berkesenian perupa muda untuk menuangkan apresiasinya dibidang seni jalanan (street art) yang sedang digemari khususnya perupa muda kota medan dan sekitarnya. Pada Urban street art ini kembali Republik rupa mencoba menawarkan suatu acara yang lebih menarik dan mengundang semakin banyak para perupa muda dan penikmat seni jalanan dikota medan dan sekitarnya untuk menuangkan pemikiran, karya, talenta serta apresiasi. Sehingga menjadi wadah untuk berkarya, karna selama ini seni jalanan ini dianggap adalah seni yang illegal, dan dianggap mengotori dinding kota. 

Sasaran dan target
Yang diharapkan dari pameran Republik rupa II ini adalah membangitkan potensi perupa muda untuk berkarya di bidangnya masing-masing. Dan mencoba memberikan wacana yang baik tentang seni jalanan agar tidak di anggap seni yang mengotori dinding kota. Karna berkesenian dibidang rupa tidak dibatasi oleh media, ukuran, bahan, atau hanya mementingkan nilai jual dari suatu karya. pameran ini juga diharapkan dapat dinikmati para penikmat seni jalanan kota medan dan sekitarnya.

D'TRADISI

DAPATKAN TIKET UNDANGAN KONSER D'TRADISI "ONE LOVE OF CULTURE" SUDAH BEREDAR DENGAN HTM:
VIP Rp 70.000,-
FESTIVAL Rp 20.000,-
PELAJAR & MAHASISWA Rp 10.000
INFORMASI INI DAPAT DISEBARLUASKAN
"BOLEH GAUL TAPI ETNIK"