Catatan penting observasi MCAF II dari nara sumber: (Mateus
Suwarsono). Gerakan seni kontemporer berpusar di Jawa dan Bali, karena disana
infrastrukturnya lengkap. salah satu syarat terpenting ialah memiliki institusi
seni. tokoh seni kontemporer tersebut misalnya; (alm) Harry Roesly (musik),
Sapto Raharjo (Sastra), Sardono W. Kusumo (perintis seni kontemporer di
Indonseia), Sulistio tirtokusumo, Didi Ninik towok. Dalam bentuk festival: Art
Summit, Indonesia Dance Festival. Tokoh kontemporer dari Sumatera: Erry Mefri
(Padang, mengangkat idiom minang), Tom ibnur (Jambi, mengangkat idiom Zapin
Melayu), (alm) Ben.M Pasaribu, Eru Cakra Mahameru (musik), Teater satu Lampung.
Gerakan seni kontemporer di Medan terkendala minimnya infrastruktur, jalur
pendidikan seni formal tidak ada, rata-rata pekarya seninya otodidak. Komunitas
teater di Medan pun dalam proses kreatif serba tanggung, nggak jelas
kelaminnya. komunitas tari pun begitu, para pekaryanya miskin ide. Kendala
lainnya ialah referensi pertunjukan sangat kurang. pekarya medan jarang terlibat
event di luar medan, jarang didatangi pekarya dari luar medan, orientasi
berkarya belum menjadi suatu bagian utama dalam proses berkarya. Sejarah
kontemporer itu berasal dari pendobrakan tradisi balet di eropa. kontemporer
yaitu: suatu bentuk kreatifitas kesenian merujuk pada kreatifitas kesenian
berbasis pada tradisi atau pun non tradisi. tradisi yaitu suatu bentuk seni
warisan. kontemporer bukan suka hati, tapi jangan buat takut untuk berkarya.
Maka, kalau sudah begini seharusnya para pekarya MCAF II harus memperbanyak
referensi. Salah satunya observasi lapangan, sangat
vital....weleh-weleh...malah separuh pun tak ada. Apa jadinya MCAF II nanti?
Apakah semangat menjadikan MCAF sebagai gerakan seni kontemporer sebatas mimpi?
Hanya semangat kreatifitas saudara-saudara yang mampu menjawabnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar