Minggu, 26 Februari 2012

CATATAN OBSERVASI MCAF II


Catatan penting observasi MCAF II dari nara sumber: (Mateus Suwarsono). Gerakan seni kontemporer berpusar di Jawa dan Bali, karena disana infrastrukturnya lengkap. salah satu syarat terpenting ialah memiliki institusi seni. tokoh seni kontemporer tersebut misalnya; (alm) Harry Roesly (musik), Sapto Raharjo (Sastra), Sardono W. Kusumo (perintis seni kontemporer di Indonseia), Sulistio tirtokusumo, Didi Ninik towok. Dalam bentuk festival: Art Summit, Indonesia Dance Festival. Tokoh kontemporer dari Sumatera: Erry Mefri (Padang, mengangkat idiom minang), Tom ibnur (Jambi, mengangkat idiom Zapin Melayu), (alm) Ben.M Pasaribu, Eru Cakra Mahameru (musik), Teater satu Lampung. Gerakan seni kontemporer di Medan terkendala minimnya infrastruktur, jalur pendidikan seni formal tidak ada, rata-rata pekarya seninya otodidak. Komunitas teater di Medan pun dalam proses kreatif serba tanggung, nggak jelas kelaminnya. komunitas tari pun begitu, para pekaryanya miskin ide. Kendala lainnya ialah referensi pertunjukan sangat kurang. pekarya medan jarang terlibat event di luar medan, jarang didatangi pekarya dari luar medan, orientasi berkarya belum menjadi suatu bagian utama dalam proses berkarya. Sejarah kontemporer itu berasal dari pendobrakan tradisi balet di eropa. kontemporer yaitu: suatu bentuk kreatifitas kesenian merujuk pada kreatifitas kesenian berbasis pada tradisi atau pun non tradisi. tradisi yaitu suatu bentuk seni warisan. kontemporer bukan suka hati, tapi jangan buat takut untuk berkarya. Maka, kalau sudah begini seharusnya para pekarya MCAF II harus memperbanyak referensi. Salah satunya observasi lapangan, sangat vital....weleh-weleh...malah separuh pun tak ada. Apa jadinya MCAF II nanti? Apakah semangat menjadikan MCAF sebagai gerakan seni kontemporer sebatas mimpi? Hanya semangat kreatifitas saudara-saudara yang mampu menjawabnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar