Rabu, 06 Juni 2012
Minggu, 27 Mei 2012
PEMBERITAAN MEDIA TERKAIT "KOMUNITAS AIR IN ARTS'
Pemberitaan Pers Terkait ”Komunitas Air In Arts”
- Harian Waspada
- “Benang Putus” Utusan SUMUT ke
FFI: Waspada, 25 Maret 2002
- Pentas
Monolog ”Coro” Agus Susilo, Totalitas
Teater Dengan Bingkai Warna Lokal; Waspada 31 Oktober 2010
- MCAF 2010; Berlindung pada label kontemporer,, Waspada,
Minggu/13 Juni 2010.
- Harian Analisa
- Menertawakan Diri Bukan Karena
Lucu: Tuyul Mafia; Analisa 13 Mei 2007 Perkembangan Seni dan Budaya Sumut (I)
- Berbicara
Teater Tidak Mengenal Waktu dan Ruang: Analisa 3 Mei 2009
- Medan
Contemporary Arts Festival: Intro 21 Mei 2010
- MCAF 2010, 4 dan 5 Juni 2010;
Metro 24, Senin 31 Mei 2010, Sabtu 29 Mei 2010, Minggu 30 Mei 2010
- MCAF 2010: Analisa Minggu
- Seni Memulihkan Ben M Pasaribu:
Analisa 21 Nopember 2010
- Sumangot Tu Ben M Pasaribu: Analisa
21 Nopember 2010
- Medan
Contemporary Art seninya anak muda; Analisa 13 Juni 2010
- Geliat Seni di Medan; Analisa 30
Mei 2010
- Dari PPSS XIII di Bandar Lampung;
Bencana Ben M Pasaribu dan Pan Sumatera; Analisa 14 Nopember 2010
- Dari Mimbar Teater Indonesia; Putu
Wijaya Salut pada Taman Budaya Solo: Analisa 17 Oktober 2010
- Sastra
Indonesia Kontemporer; 14 Nopember 2010
- Harian Medan Bisnis
a. Ars Dance Theatre Gelar Inovasi 3: Medan
Bisnis 12 April 2009
b. The Sense of Music di TBSU: Medan Bisnis
25 Oktober 2009
c.
MCAF dan Pekarya Muda Medan; Medan Bisnis, 2 Mei 2010
d.
Malam Seni Untuk Kesembuhan Be; Medan Bisnis 21 Nopember
2010
e.
Surat untuk Ben M Pasaribu; Medan Bisnis 14 Nopember 2010
f.
The
Sense of Music Gado-gado Musik Yang Demokratis: Medan Bisnis 15 November 2009
g. Diskusi Warung Bersama Tawarkan Seni
Mengolah isu; Medan Bisnis 16 Januari 2011
- Majalah Gong
a.
Menggugat Kemanusiaan Lewat ”Inovasi 3”: Gong,
No.112/X/2009
Memahami Subkultur Musik Batak: Gong
117/X/2009
b. 17 Tahun Citra Budaya, Persembahan
“Ekspresi Cibud” Dengan Berbagai Lomba: Gaya Medan 8 Agustus 2009
c. Composer Medan di “Sense of Music”: Gaya
Medan 9 Oktober 2009
d. The Sense of Music: Bangkitkan Budaya
Batak 24 jam 27 Oktober 2009
e. The Sense Of Music: 24 jam 30 Oktober
2009
f.
The
Sense of Music Pukau Penonton: 24 jam 4 November 2009
- Harian Sumut Pos
- D’lick
Theatre Team Gelar Festival Teater Pelajar: Sumut pos 15 Januari 2006
- Inovasi 3 ala Air In Art: Sumut
Pos 10 Mei 2009
- Composer
Muda Bicara Musik: The Sense of Music 2 November: Sumut Pos 27 Oktober
2009
- MCAF
2010: Analisa MCAF digelar; Sumut POS, Rabu 19 Mei 2010 MCAF hadir
5 Juni; Intro, Jum’at 21 Mei 2010
- Pekarya
Muda Medan Gelar MCAF: Sumut Pos 27 April 2010
- Gagasan Pembawa Harum; Sumut POS
- Doa
bagi Ben M Pasaribu; Sumut POS 14 Nopember 2010
- Warung Diskusi Digagas; Sumut POS,
2 Januari 2011
- Harian Warta Kita
- D’lick
Theatre Gelar Festival Teater Pelajar: Wartakita Medan 17 Januari 2006
- Seni Sebagai Jembatan Kebersamaan;
Warta Kita Medan
- Harian Kompas
- Dengarkanlah
Perempuan Berbicara: Kompas 5 Februari 2007
- Harian Seputar
Indonesia
a. Sabtu Ketawa, Parade Teater Ala Kampusi
Sebulan Ngakak Di Taman BudayaTarian Etnis Daerah yang Tergerus Budaya Hedonis:
Seputar Indonesia 26 Juni 2008
- Harian Metro
- Funland
Mikie Holiday Suguhkan Teater Cowboy: Metro 5 April 2010
- Karya
Seni Anak Medan; Metro 24 4 Juni 2010
- Majalah Glamor
- Hardoni
Sitohang Lestarikan Budaya Batak: Glamour 9 Juni 2010
- Harian Pos Kota
- Malam Apresiasi Pekarya Medan Proses; Pos Kota Sumatera 26 April
2010
- Harian The Jakarta Pos
- Medan
Trope revives intensity of live theatre performances: The Jakarta Pos
Jumat, 25 Mei 2012
Kamis, 24 Mei 2012
RILIS PERS TEATER SUPER PRAPANCA
Teater Rumah Mata “Pekarya SUMUT Bicara 2012”
Drama Anak SUPER PANCA (Episode: Para Balita Pemberani)
Karya/sutradara: Agus Susilo
Belajar Menjadi
Indonesia
Agenda Teater
Rumah Mata dalam Pekarya Sumut Bicara 2012 selanjutnya
(http/airinarts.blogspot.com) ialah pagelaran drama anak SUPER PANCA (Episode:
Para Balita Pemberani), karya/sutradara: Agus Susilo, Kamis/31 Mei 2012, pukul
15.00 Wib dan 19.30 Wib di Sanggar Tari Taman Budaya Sumatera Utara. Pagelaran
ini didukung Komunitas Air In Arts bersama berbagai disiplin komunitas seni
lainnya (PLOT, Ars Dance Theatre, Republik Rupa, Warung Diskusi Bersama,
D’Tradisi, Kendi Pro).
Naskah ini mengangkat cerita tentang anak-anak
sekolah yang tidak memiliki karakter bangsa hingga mudah dipengaruhi. Ratu Pratala Pritili sebagai simbolisasi
kekuatan asing bahagia karena hampir seluruh rencananya menguasai pikiran anak-anak
berhasil diwujudkan. Namun di balik
kebahagiaannya itu ada hal yang membuatnya tidak bisa tidur nyenyak; kemunculan
Super Panca. Akhirnya dia mengutus pasukannya untuk mencari Super Panca dan
menghabisinya.
Di suatu sekolah, murid-muridnya
mengalami krisis karakter. Mereka tidak suka belajar Pancasila, menyanyikan
lagu Indonesia Raya, dan memahami Sumpah Pemuda.
Hampir seluruh
muridnya mogok belajar! Namun, masih ada seorang murid yang memiliki karakter
kuat, yaitu Maysarah. Dia optimis ada harapan di masa depan untuk mengatasi
krisis karakter anak-anak Indonesia.
Benih-benih Super Panca muncul dari
sebuah dusun yang jauh. Mereka masih balita. Polos dan sederhana. Kemauan
mereka belajar sangat kuat, terutama belajar menjadi Indonesia. Pasukan Ratu
Pratala Pritili berusaha menculik mereka. Dengan gagah berani para balita ini
menghadapi pasukan Ratu Pratala Pritili. Semangat Pancasila mereka berkobar.
Pada akhirnya para balita ini memukul mundur pasukan Ratu Pratala Pritili. Ratu
Pratala Pritili semakin bad mood dan pusing pusing pusing.
Pementasan Drama Anak SUPER PANCA (Episode: Para Balita Pemberani) ini
didukung seluruh komunitas seni yang terlibat dalam event ”Pekarya SUMUT Bicara
2012” dengan penata panggung: Adie Damanik, Penata cahaya: Budi Utomo, Penata
kostum: Sidratul Muntaha, Penata musik: Ade Jabal dan Stage manager: Ojax
Manalu.
Rabu, 23 Mei 2012
TERBIT DI HARIAN ANALISA, MINGGU 13 MEI 2012
Oleh: Darwis Rifai Harahap. Sejak kanak-kanak manusia sudah senang menari. Dalam gendongan sambil menyanyikan nina bobo, seorang ibu yang akan menidurkan bayinya akan terus menari dan menari sambil menyanyi. Begitu juga hewan, seperti burung, kupu-kupu, pepohonan yang ditiup angin di atas perbukitan, di tepi pantai yang ada pepohonan nyiur, akan terlihat melambai-lambai dengan gemulainya menarikan tarian alam diiringi deburan ombak yang berkejaran memukul-mukul dinding karang di tengah lautan. Semuanya menari. Tarian alam yang sangat dahsyat yang dapat menghibur dan mengobati kegundahan dikala manusia berada dalam duka yang teramat mendalam.
Seorang seniman tari kala melihat deburan ombak di tepi pantai, atau melihat sekawan burung yang terbang berkelompok di angkasa dalam formasi yang panjang, oleh seniman tari, apa yang dia lihat dan apa yang dia rasakan menjadi sumber ilham yang tak ada habisnya untuk menciptakan gerak tari guna dihidangkan kepada khalayak penonton di sebuah gedung pertunjukan.
Di Sumatera Utara banyak nama seniman tari yang telah menciptakan tarian yang fenomenal. Seperti alm. Sauti yang menciptakan tari Serampang 12, Ahmad Setia Nasution ( pak Badu Polisi) yang menciptakan Tor Tor Modern, Taralamsah Saragih, Jose Rizal Firdaus yang menciptakan tarian Persembahan, Zikri dan Zapin Menjelang Magrib, adalah satu-satunya murid Sauti yang masih eksis di Sumatera Utara. Lewat tangan Jose Rizal Firdaus seni tari berkembang pesat di Sumatera Utara. Memang ada nama-nama lain yang andilnya juga cukup besar dalam mengembangkan seni tari Melayu di Sumatera Utara, seperti Ani Trisna , Rustam Effendi di Tebing Tinggi, Asmara Dhana, Dilli, Mancu dan yang lainnya, namun yang rutin mampu menjadikan seni tari sebagai seni pertunjukan, ternyata masih langka. Yang ada baru tari sebagai tari hiburan. Jadi yang namanya penonton tari, di Sumatera Utara dapat dipastikan memang belum ada. Malam minggu pada bulan April di minggu ke dua lalu, di Taman Budaya Medan sedang di gelar pertunjukan tari yang sengaja dikemas sebagai seni pertunjukan. Malam itu penonton memang tidak banyak. Kursi banyak kosong. Menurut Jaya Arjuna, yang kebetulan duduk disebelah penulis, menonton begitu antusias dan tak henti-hentinya memberikan aplus. Ir, Jaya Arjuna, adalah seniman teater dan penulis, begitu memuji pertunjukan tari yang ditata oleh Mateus Suwarsono. Jelas sekali Ir. Jaya Arjuna sangat puas menonton tarian yang ada di hadapannya, walau sambil menonton dia mengkomentari pencahayaan yang membuat para penari terlihat kerdil-kerdil dari kursi penonton.Yang dikomentari teman saya itu memang benar. Andai saja cahaya ada dari bawah, suasana di atas panggung pasti akan membuat tubuh penari akan terlihat lebih gagah. Tari yang diilhami dari tanah Batak itu memang sarat dengan suasana kekinian dan sejarah masa lalu tanah Batak. Orang Jawa yang bernama Mateus Suwarsono ini, telah memadukan gerak tradisi ke dalam suasana kontemporer. Musik yang begitu meriah, membawa suasana batin penonton kemasa lalu, kemasa dimana alam tanah Batak dengan Danaunya yang begitu indah belum tercemar karena dirusak oleh manusia. Dengan disandingkannya irama zapin dan gerak perang antara sorban dan ulos, penulis langsung teringat kisah Tuanku Rao, masuknya pasukan Padri ke tanah Batak dan Angkola. Secara garis besar, apa yang disajikan memang sudah cukup artistik, namun buat penulis sajian itu terlalu panjang walau tidak terkesan bertele-tele sebagai seni pertunjukan. Bila saja bebarapa adegan lebih dipadatkan, seperti pesan-pesan yang terlalu verbal digantikan dengan bahasa gerak, karena ini tari. Kesan pertunjukan yang molor mungkin dapat dari saja para penari benar-benar menghayati gerak tari yang ditarikannya, suasana magis pasti akan lebih terasa dan lebih mencekam. Andai saja kesalahan-kesalahan kecil seperti tidak turunnya layar untuk memproyeksikan gambar-gambar (layar terpaksa diturunkan menggunakan tangga), pencahayaan yang masih belum tepat pada sasaran dan bloking, hanya pada musik kekuatan yang datang untuk keseluruhan pertunjukan malam itu. Musik yang membuat penonton dapat terpaku untuk duduk berlama-lama menikmati sajian tari masa kini itu. Walau belum sempurna betul, malam itu sebahagian penonton telah dapat menerima apa yang telah disajikan. Mudah-mudahan tari sebagai seni pertnjukan dapat berlanjut. Setelah Mateus siapa lagi? 2012 drh.. |
Selasa, 22 Mei 2012
DRAMA ANAK SUPER PANCA
kata ayah dan bunda, kalau kita rajin belajar dan berdoa kita bisa jadi peminmpin dan masuk surga asikk kan para anak anak ini menawarkan impian mereka DRAMA ANAK SUPER PANCA.
Selasa, 01 Mei 2012
PAMERAN
ayoooo....hari sabtu, 5 mei 2012 pembukaan pameran MCAF II. pukul 19.15 wib
karya-karya dari pekarya muda medan antara lain : Adie Damanik, Yanal Desmond Zendrato, Medan Art, Sahala, Mentavana, Coro Siantar, Bosman, Hendra S'ahaan, sinji, Vandas Stone, LKL, Mentosa Art, Icut Siboro, Rinco Omz, Irwanson, Ferdinand.....dll.
selamat berapresiasi....
karya-karya dari pekarya muda medan antara lain : Adie Damanik, Yanal Desmond Zendrato, Medan Art, Sahala, Mentavana, Coro Siantar, Bosman, Hendra S'ahaan, sinji, Vandas Stone, LKL, Mentosa Art, Icut Siboro, Rinco Omz, Irwanson, Ferdinand.....dll.
selamat berapresiasi....
WARUNG DISKUSI
Warung Diskusi Bersama" Melirik Event Tari di Medan " pada tanggal 28 April 2012 pukul 16.00 wib di Ruang Pameran Taman Budaya Sumatera Utara dengan Narasumber : Mateus Suwarsono Ars & Dilinar Nasution dengan dihadiri oleh : Bores Zal, Jones Gultom, Ojax Manalu,Iwan Tarok, sidratul muntaha,elia zuhra, rizki damayanti, Martozet, Riska Fitri Anisa...dengan banyak tawaran wacana dan melihat persolan event2 tari di Medan. Akhirnya dengan semangat & kesepakatan bersama terwujudlah " Medan Annual Choreographer Showcase "
Minggu, 04 Maret 2012
Sabtu, 03 Maret 2012
Perempuan Melayu Langkat Mengayun Cita-Cita
Perempuan Melayu Langkat Mengayun Cita-Cita
Komunitas Air In Arts bersama berbagai disiplin komunitas seni ( Teater Rumah Mata, PLOt, Ars Dance Theatre, D’Tradisi, Republik Rupa, Warung Diskusi Bersama ) kembali mengguncang dinamika kesenian di Sumatera Utara dengan mem...buat event kesenian selama 1 tahun. Event ini bertajuk “Pekarya SUMUT Bicara 2012” menggelar 27 karya dari berbagai displin seni ( teater, tari, musik, rupa dan sastra ). Event ini digelar dari 24 Februari-8 Desember (http// airinarts.blogspot. com).
Salah satu event dalam waktu dekat ini digelar ialah pagelaran teater Monolog AYUN, karya/sutradara: Agus Susilo, produksi Teater Rumah Mata pada Jum’at-Sabtu/ 9-10 Maret 2012 di Ruang Pameran Taman Budaya Sumatera Utara, pukul 15.00 Wib pelajar dan 20.00 Wib umum.
Naskah ini mengangkat isu peran perempuan dalam sistem budaya Melayu Langkat. Pernikahan seorang perempuan yang diusik oleh pikirannya sendiri. Keyakinan dan kebimbangan silih berganti memburunya. Hasil pernikahan yang disimboliskan dengan bayi-bayi diayun dalam ayunan melahirkan kebahagiaan sekaligus kecemasan. Kondisi psikisnya semakin menggelinjang ketika masa lalu, masa depan dan masa kini bertubrukan di pikirannya. Di satu sisi ia kecewa dengan hasil pernikahannya. Di sisi lain ia bahagia dengan keberaniannya memutuskan menikah. Ia terombang-ambing dengan konswekensi perbuatannya.
Begitu cintanya ia terhadap sang suami hingga rela meleburkan seluruh tubuhnya dalam alam pikiran suaminya. Walau karena cita-cita sang suami pergi meninggalkannya. Ia tetap setia pada janji pernikahan. Ia tetap yakin kalau pernikahan itu akan mendatangkan masa depan yang gemilang. Walau ribuan penderitaan menyusup ke setiap sel tubuhnya. Dalam ada dan tiadanya, tokoh perempuan ini menemukan nyala dibalik masa.
Sidratul Muntaha, aktor yang memerankan tokoh perempuan dalam naskah ini mengungkapkan: ” Saya berproses naskah Monolog AYUN sejak 2011, namun sempat vakum sebab terlibat dalam beberapa produksi teater. Naskah ayun memiliki tantangan tersendiri, selain alurnya yang tidak linear juga memerlukan riset budaya, khususnya Melayu Langkat. Naskah ini juga menuntut sang aktor dapat menarikan beberapa tarian daerah. Naskah ini menceritakan pernikahan dini yang dilakukan seorang gadis. Dimana gadis tersebut berada dalam garis budaya Melayu Langkat yang sangat kental. Disamping budaya melayu langkat, ”ayun” juga menghadirkan budaya Karo dan Jawa. Nah, saya sendiri bersuku Gayo yang besar Langkat. Dapat di bayangkan berapa besar tatangan dalam naskah ini. Sejatinya Monolog AYUN mengedepankan fikiran positif, fokus, serta menjunjung tinggi budaya lokal khususnya Sumatera Utara. ”
Pementasan Monolog AYUN ini didukung seluruh komunitas seni yang terlibat dalam event ”Pekarya SUMUT Bicara 2012” dengan penata panggung: Adie Damanik, Penata cahaya: Budi Utomo, Penata musik: Ade Jabal, Penata gerak: T. Harris Fadillah dan Stage manager: Ojax Manalu.
Komunitas Air In Arts bersama berbagai disiplin komunitas seni ( Teater Rumah Mata, PLOt, Ars Dance Theatre, D’Tradisi, Republik Rupa, Warung Diskusi Bersama ) kembali mengguncang dinamika kesenian di Sumatera Utara dengan mem...buat event kesenian selama 1 tahun. Event ini bertajuk “Pekarya SUMUT Bicara 2012” menggelar 27 karya dari berbagai displin seni ( teater, tari, musik, rupa dan sastra ). Event ini digelar dari 24 Februari-8 Desember (http//
Salah satu event dalam waktu dekat ini digelar ialah pagelaran teater Monolog AYUN, karya/sutradara: Agus Susilo, produksi Teater Rumah Mata pada Jum’at-Sabtu/ 9-10 Maret 2012 di Ruang Pameran Taman Budaya Sumatera Utara, pukul 15.00 Wib pelajar dan 20.00 Wib umum.
Naskah ini mengangkat isu peran perempuan dalam sistem budaya Melayu Langkat. Pernikahan seorang perempuan yang diusik oleh pikirannya sendiri. Keyakinan dan kebimbangan silih berganti memburunya. Hasil pernikahan yang disimboliskan dengan bayi-bayi diayun dalam ayunan melahirkan kebahagiaan sekaligus kecemasan. Kondisi psikisnya semakin menggelinjang ketika masa lalu, masa depan dan masa kini bertubrukan di pikirannya. Di satu sisi ia kecewa dengan hasil pernikahannya. Di sisi lain ia bahagia dengan keberaniannya memutuskan menikah. Ia terombang-ambing dengan konswekensi perbuatannya.
Begitu cintanya ia terhadap sang suami hingga rela meleburkan seluruh tubuhnya dalam alam pikiran suaminya. Walau karena cita-cita sang suami pergi meninggalkannya. Ia tetap setia pada janji pernikahan. Ia tetap yakin kalau pernikahan itu akan mendatangkan masa depan yang gemilang. Walau ribuan penderitaan menyusup ke setiap sel tubuhnya. Dalam ada dan tiadanya, tokoh perempuan ini menemukan nyala dibalik masa.
Sidratul Muntaha, aktor yang memerankan tokoh perempuan dalam naskah ini mengungkapkan: ” Saya berproses naskah Monolog AYUN sejak 2011, namun sempat vakum sebab terlibat dalam beberapa produksi teater. Naskah ayun memiliki tantangan tersendiri, selain alurnya yang tidak linear juga memerlukan riset budaya, khususnya Melayu Langkat. Naskah ini juga menuntut sang aktor dapat menarikan beberapa tarian daerah. Naskah ini menceritakan pernikahan dini yang dilakukan seorang gadis. Dimana gadis tersebut berada dalam garis budaya Melayu Langkat yang sangat kental. Disamping budaya melayu langkat, ”ayun” juga menghadirkan budaya Karo dan Jawa. Nah, saya sendiri bersuku Gayo yang besar Langkat. Dapat di bayangkan berapa besar tatangan dalam naskah ini. Sejatinya Monolog AYUN mengedepankan fikiran positif, fokus, serta menjunjung tinggi budaya lokal khususnya Sumatera Utara. ”
Pementasan Monolog AYUN ini didukung seluruh komunitas seni yang terlibat dalam event ”Pekarya SUMUT Bicara 2012” dengan penata panggung: Adie Damanik, Penata cahaya: Budi Utomo, Penata musik: Ade Jabal, Penata gerak: T. Harris Fadillah dan Stage manager: Ojax Manalu.
Minggu, 26 Februari 2012
OBSERVASI MCAF II
catatn penting observasi MCAF II menurut para narasumber: (Jaya Arjuna) medan merupakan kota paling unik, terdiri dari berbagai macam etnis. Yang pertama kali datang ke medan ialah Cina, diikuti keleng, arab dan Belanda. Orientasi mereka ke medan ialah bisnis. Kemudian masul lagi suku Minang dan Aceh. kedua etnis ini juga berorientasi bisnis. lalu didatangkanlah suku Jawa sebagai kuli perkebunan. Akhirnya medan menjadi tempat bisnis, melupakan budaya menguatkan keamanan. Untuk selingan ditemukanlah permainan trup. Trup juga permainan yang unik, karena angka tertinggi adalah 3 yang artinya Hukum. Filosofisnya hukum merupakan kekuatan tertinggi. Karena banyak melahirkan sastrawan, musikus, perupa dan teaterawan Medan disejajarkan sebagai kota budaya. Sekarang Medan berubah menjadi kota Buaya. Maka muncul istilah buaya Deli. filosofis buaya ialah: tangkap, pelintir, telan. Perubahan ini terjadi karena tidak ada satu pejabat pun yang peduli pada kebudayaan. Serta minimnya infrastruktur pendidikan. Diperparah dengan persfektif hidup masyarakat Medan yang berorientasi pada ekonomi, maka hilanglah budaya waaupun banyak etnis menghuni Medan. Mereka hanya berpikir "proyek" Dahulu, Medan sempat punya gedung kesenian, yaitu di jalan Bali. Akibat keganasan pejabat maka habislah gedung kesenian itu. kesimpulan, ORANG MEDAN MASIH PRIMITIF. BUKTINYA TIDAK MENGHARGAI SEJARAH. salah satu contoh Pohon TREMBESI di lapangan merdeka dihabisi pelan-pelan. Akibatnya banyak orang biadab menghuni kota Medan yang cara berpikirnya: Dapat, Tangkap, Makan. Sama seperti buaya. Nah, bagaimana pula para pekarya MCAF II yang cara berpikirnya "proyek" juga? yang menomor seratus kan suatu proses dan "riset" untuk menemukan ide kreatif yang berpijak di bumi? Apakah para pekarya seperti itu punya tanggung jawab moral? Ataukah mereka berkarya hanya sekedar selingan mengisi waktu luang? jawabnya, ada di nurani kesenian kita masing-masing. salam budaya
CATATAN OBSERVASI MCAF II
Catatan penting observasi MCAF II dari nara sumber: (Mateus
Suwarsono). Gerakan seni kontemporer berpusar di Jawa dan Bali, karena disana
infrastrukturnya lengkap. salah satu syarat terpenting ialah memiliki institusi
seni. tokoh seni kontemporer tersebut misalnya; (alm) Harry Roesly (musik),
Sapto Raharjo (Sastra), Sardono W. Kusumo (perintis seni kontemporer di
Indonseia), Sulistio tirtokusumo, Didi Ninik towok. Dalam bentuk festival: Art
Summit, Indonesia Dance Festival. Tokoh kontemporer dari Sumatera: Erry Mefri
(Padang, mengangkat idiom minang), Tom ibnur (Jambi, mengangkat idiom Zapin
Melayu), (alm) Ben.M Pasaribu, Eru Cakra Mahameru (musik), Teater satu Lampung.
Gerakan seni kontemporer di Medan terkendala minimnya infrastruktur, jalur
pendidikan seni formal tidak ada, rata-rata pekarya seninya otodidak. Komunitas
teater di Medan pun dalam proses kreatif serba tanggung, nggak jelas
kelaminnya. komunitas tari pun begitu, para pekaryanya miskin ide. Kendala
lainnya ialah referensi pertunjukan sangat kurang. pekarya medan jarang terlibat
event di luar medan, jarang didatangi pekarya dari luar medan, orientasi
berkarya belum menjadi suatu bagian utama dalam proses berkarya. Sejarah
kontemporer itu berasal dari pendobrakan tradisi balet di eropa. kontemporer
yaitu: suatu bentuk kreatifitas kesenian merujuk pada kreatifitas kesenian
berbasis pada tradisi atau pun non tradisi. tradisi yaitu suatu bentuk seni
warisan. kontemporer bukan suka hati, tapi jangan buat takut untuk berkarya.
Maka, kalau sudah begini seharusnya para pekarya MCAF II harus memperbanyak
referensi. Salah satunya observasi lapangan, sangat
vital....weleh-weleh...malah separuh pun tak ada. Apa jadinya MCAF II nanti?
Apakah semangat menjadikan MCAF sebagai gerakan seni kontemporer sebatas mimpi?
Hanya semangat kreatifitas saudara-saudara yang mampu menjawabnya.
Rabu, 01 Februari 2012
REPUBLIK RUPA
URBAN
STREET ART
REPUBLIK RUPA II
LATAR BELAKANG KEGIATAN
Pameran urban street art pada tanggal 26 juni sampai 3 juli 2011 di ruang pameran Taman Budaya Sumatera Utara Medan merupakan pameran yang memiliki tema menggores rupa membangun wacana. Acara pameran ini telah dilaksanakan dengan menampilkan karya-karya perupa muda yang biasa d kategorikan dengan beberapa jenis karya yakni : graffitty, mural, dan stencil. Pameran yang dibuka dengan kata sambutan oleh salah satu seniman kota medan yakni Togu Sinambela dari komunitas galeri Payung Teduh dilanjutkan dengan performance art dari komunitas grafitty ME&ART sebelum acara pameran dibuka, dibarengi oleh live performance music Disc jokie (DJ) oleh DJ Padsa dan DJ Deva , sehingga semakin membangkitkan semangat perupa muda. Setelah para penikmat seni jalanan (street art) memasuki ruangan pameran para penikmat seni juga dihibur oleh pertunjukan musik blues oleh Gery feat Givary Owny. Pameran dibuka selama satu minggu dan pameran ini juga mengadakan diskusi yang dibawakan oleh seniman atau yang biasa disebut sebagai sastrawan yakni Thompson Hs. Dan seniman kota medan Togu Sinambela tentang geliat seni jalanan di kota medan. Para pekarya yang mengikuti kegiatan pameran street art ini adalah Lambok, Adie damanik, Gery paulandika, Yanal Desmon, Hendra siahaan, Renjaya Siahaan, Maria, devha, Sutan Tobing, redot ebe,rizal, benheri gultom, kombet, mangihut.
Kali ini Republik Rupa II yang mencoba Membangun semangat berkesenian perupa muda untuk menuangkan apresiasinya dibidang seni jalanan (street art) yang sedang digemari khususnya perupa muda kota medan dan sekitarnya. Pada Urban street art ini kembali Republik rupa mencoba menawarkan suatu acara yang lebih menarik dan mengundang semakin banyak para perupa muda dan penikmat seni jalanan dikota medan dan sekitarnya untuk menuangkan pemikiran, karya, talenta serta apresiasi. Sehingga menjadi wadah untuk berkarya, karna selama ini seni jalanan ini dianggap adalah seni yang illegal, dan dianggap mengotori dinding kota.
Sasaran dan target
Yang diharapkan dari pameran Republik rupa II ini adalah membangitkan potensi perupa muda untuk berkarya di bidangnya masing-masing. Dan mencoba memberikan wacana yang baik tentang seni jalanan agar tidak di anggap seni yang mengotori dinding kota. Karna berkesenian dibidang rupa tidak dibatasi oleh media, ukuran, bahan, atau hanya mementingkan nilai jual dari suatu karya. pameran ini juga diharapkan dapat dinikmati para penikmat seni jalanan kota medan dan sekitarnya.
REPUBLIK RUPA II
LATAR BELAKANG KEGIATAN
Pameran urban street art pada tanggal 26 juni sampai 3 juli 2011 di ruang pameran Taman Budaya Sumatera Utara Medan merupakan pameran yang memiliki tema menggores rupa membangun wacana. Acara pameran ini telah dilaksanakan dengan menampilkan karya-karya perupa muda yang biasa d kategorikan dengan beberapa jenis karya yakni : graffitty, mural, dan stencil. Pameran yang dibuka dengan kata sambutan oleh salah satu seniman kota medan yakni Togu Sinambela dari komunitas galeri Payung Teduh dilanjutkan dengan performance art dari komunitas grafitty ME&ART sebelum acara pameran dibuka, dibarengi oleh live performance music Disc jokie (DJ) oleh DJ Padsa dan DJ Deva , sehingga semakin membangkitkan semangat perupa muda. Setelah para penikmat seni jalanan (street art) memasuki ruangan pameran para penikmat seni juga dihibur oleh pertunjukan musik blues oleh Gery feat Givary Owny. Pameran dibuka selama satu minggu dan pameran ini juga mengadakan diskusi yang dibawakan oleh seniman atau yang biasa disebut sebagai sastrawan yakni Thompson Hs. Dan seniman kota medan Togu Sinambela tentang geliat seni jalanan di kota medan. Para pekarya yang mengikuti kegiatan pameran street art ini adalah Lambok, Adie damanik, Gery paulandika, Yanal Desmon, Hendra siahaan, Renjaya Siahaan, Maria, devha, Sutan Tobing, redot ebe,rizal, benheri gultom, kombet, mangihut.
Kali ini Republik Rupa II yang mencoba Membangun semangat berkesenian perupa muda untuk menuangkan apresiasinya dibidang seni jalanan (street art) yang sedang digemari khususnya perupa muda kota medan dan sekitarnya. Pada Urban street art ini kembali Republik rupa mencoba menawarkan suatu acara yang lebih menarik dan mengundang semakin banyak para perupa muda dan penikmat seni jalanan dikota medan dan sekitarnya untuk menuangkan pemikiran, karya, talenta serta apresiasi. Sehingga menjadi wadah untuk berkarya, karna selama ini seni jalanan ini dianggap adalah seni yang illegal, dan dianggap mengotori dinding kota.
Sasaran dan target
Yang diharapkan dari pameran Republik rupa II ini adalah membangitkan potensi perupa muda untuk berkarya di bidangnya masing-masing. Dan mencoba memberikan wacana yang baik tentang seni jalanan agar tidak di anggap seni yang mengotori dinding kota. Karna berkesenian dibidang rupa tidak dibatasi oleh media, ukuran, bahan, atau hanya mementingkan nilai jual dari suatu karya. pameran ini juga diharapkan dapat dinikmati para penikmat seni jalanan kota medan dan sekitarnya.
Langganan:
Postingan (Atom)




































