Perempuan Melayu Langkat Mengayun Cita-Cita
Komunitas Air In
Arts bersama berbagai disiplin komunitas seni ( Teater Rumah Mata, PLOt,
Ars Dance Theatre, D’Tradisi, Republik Rupa, Warung Diskusi Bersama )
kembali mengguncang dinamika kesenian di Sumatera Utara dengan mem
...buat
event kesenian selama 1 tahun. Event ini bertajuk “Pekarya SUMUT Bicara
2012” menggelar 27 karya dari berbagai displin seni ( teater, tari,
musik, rupa dan sastra ). Event ini digelar dari 24 Februari-8 Desember
(http//airinarts.blogspot. com).
Salah satu event dalam waktu dekat ini digelar ialah pagelaran teater
Monolog AYUN, karya/sutradara: Agus Susilo, produksi Teater Rumah Mata
pada Jum’at-Sabtu/ 9-10 Maret 2012 di Ruang Pameran Taman Budaya
Sumatera Utara, pukul 15.00 Wib pelajar dan 20.00 Wib umum.
Naskah
ini mengangkat isu peran perempuan dalam sistem budaya Melayu Langkat.
Pernikahan seorang perempuan yang diusik oleh pikirannya sendiri.
Keyakinan dan kebimbangan silih berganti memburunya. Hasil pernikahan
yang disimboliskan dengan bayi-bayi diayun dalam ayunan melahirkan
kebahagiaan sekaligus kecemasan. Kondisi psikisnya semakin menggelinjang
ketika masa lalu, masa depan dan masa kini bertubrukan di pikirannya.
Di satu sisi ia kecewa dengan hasil pernikahannya. Di sisi lain ia
bahagia dengan keberaniannya memutuskan menikah. Ia terombang-ambing
dengan konswekensi perbuatannya.
Begitu cintanya ia terhadap sang
suami hingga rela meleburkan seluruh tubuhnya dalam alam pikiran
suaminya. Walau karena cita-cita sang suami pergi meninggalkannya. Ia
tetap setia pada janji pernikahan. Ia tetap yakin kalau pernikahan itu
akan mendatangkan masa depan yang gemilang. Walau ribuan penderitaan
menyusup ke setiap sel tubuhnya. Dalam ada dan tiadanya, tokoh perempuan
ini menemukan nyala dibalik masa.
Sidratul Muntaha, aktor yang
memerankan tokoh perempuan dalam naskah ini mengungkapkan: ” Saya
berproses naskah Monolog AYUN sejak 2011, namun sempat vakum sebab
terlibat dalam beberapa produksi teater. Naskah ayun memiliki tantangan
tersendiri, selain alurnya yang tidak linear juga memerlukan riset
budaya, khususnya Melayu Langkat. Naskah ini juga menuntut sang aktor
dapat menarikan beberapa tarian daerah. Naskah ini menceritakan
pernikahan dini yang dilakukan seorang gadis. Dimana gadis tersebut
berada dalam garis budaya Melayu Langkat yang sangat kental. Disamping
budaya melayu langkat, ”ayun” juga menghadirkan budaya Karo dan Jawa.
Nah, saya sendiri bersuku Gayo yang besar Langkat. Dapat di bayangkan
berapa besar tatangan dalam naskah ini. Sejatinya Monolog AYUN
mengedepankan fikiran positif, fokus, serta menjunjung tinggi budaya
lokal khususnya Sumatera Utara. ”
Pementasan Monolog AYUN ini
didukung seluruh komunitas seni yang terlibat dalam event ”Pekarya SUMUT
Bicara 2012” dengan penata panggung: Adie Damanik, Penata cahaya: Budi
Utomo, Penata musik: Ade Jabal, Penata gerak: T. Harris Fadillah dan Stage
manager: Ojax Manalu.