Sabtu, 03 Maret 2012

Perempuan Melayu Langkat Mengayun Cita-Cita

Perempuan Melayu Langkat Mengayun Cita-Cita

Komunitas Air In Arts bersama berbagai disiplin komunitas seni ( Teater Rumah Mata, PLOt, Ars Dance Theatre, D’Tradisi, Republik Rupa, Warung Diskusi Bersama ) kembali mengguncang dinamika kesenian di Sumatera Utara dengan mem...buat event kesenian selama 1 tahun. Event ini bertajuk “Pekarya SUMUT Bicara 2012” menggelar 27 karya dari berbagai displin seni ( teater, tari, musik, rupa dan sastra ). Event ini digelar dari 24 Februari-8 Desember (http//airinarts.blogspot. com).
Salah satu event dalam waktu dekat ini digelar ialah pagelaran teater Monolog AYUN, karya/sutradara: Agus Susilo, produksi Teater Rumah Mata pada Jum’at-Sabtu/ 9-10 Maret 2012 di Ruang Pameran Taman Budaya Sumatera Utara, pukul 15.00 Wib pelajar dan 20.00 Wib umum.
Naskah ini mengangkat isu peran perempuan dalam sistem budaya Melayu Langkat. Pernikahan seorang perempuan yang diusik oleh pikirannya sendiri. Keyakinan dan kebimbangan silih berganti memburunya. Hasil pernikahan yang disimboliskan dengan bayi-bayi diayun dalam ayunan melahirkan kebahagiaan sekaligus kecemasan. Kondisi psikisnya semakin menggelinjang ketika masa lalu, masa depan dan masa kini bertubrukan di pikirannya. Di satu sisi ia kecewa dengan hasil pernikahannya. Di sisi lain ia bahagia dengan keberaniannya memutuskan menikah. Ia terombang-ambing dengan konswekensi perbuatannya.
Begitu cintanya ia terhadap sang suami hingga rela meleburkan seluruh tubuhnya dalam alam pikiran suaminya. Walau karena cita-cita sang suami pergi meninggalkannya. Ia tetap setia pada janji pernikahan. Ia tetap yakin kalau pernikahan itu akan mendatangkan masa depan yang gemilang. Walau ribuan penderitaan menyusup ke setiap sel tubuhnya. Dalam ada dan tiadanya, tokoh perempuan ini menemukan nyala dibalik masa.
Sidratul Muntaha, aktor yang memerankan tokoh perempuan dalam naskah ini mengungkapkan: ” Saya berproses naskah Monolog AYUN sejak 2011, namun sempat vakum sebab terlibat dalam beberapa produksi teater. Naskah ayun memiliki tantangan tersendiri, selain alurnya yang tidak linear juga memerlukan riset budaya, khususnya Melayu Langkat. Naskah ini juga menuntut sang aktor dapat menarikan beberapa tarian daerah. Naskah ini menceritakan pernikahan dini yang dilakukan seorang gadis. Dimana gadis tersebut berada dalam garis budaya Melayu Langkat yang sangat kental. Disamping budaya melayu langkat, ”ayun” juga menghadirkan budaya Karo dan Jawa. Nah, saya sendiri bersuku Gayo yang besar Langkat. Dapat di bayangkan berapa besar tatangan dalam naskah ini. Sejatinya Monolog AYUN mengedepankan fikiran positif, fokus, serta menjunjung tinggi budaya lokal khususnya Sumatera Utara. ”
Pementasan Monolog AYUN ini didukung seluruh komunitas seni yang terlibat dalam event ”Pekarya SUMUT Bicara 2012” dengan penata panggung: Adie Damanik, Penata cahaya: Budi Utomo, Penata musik: Ade Jabal, Penata gerak: T. Harris Fadillah dan Stage manager: Ojax Manalu.

1 komentar:

  1. semoga kuncup menjadi bunga, wangi hidup berketulusan..

    salam
    jabat-erat!
    (Jihad Namagabti)

    BalasHapus