catatn penting observasi MCAF II menurut para narasumber: (Jaya Arjuna) medan merupakan kota paling unik, terdiri dari berbagai macam etnis. Yang pertama kali datang ke medan ialah Cina, diikuti keleng, arab dan Belanda. Orientasi mereka ke medan ialah bisnis. Kemudian masul lagi suku Minang dan Aceh. kedua etnis ini juga berorientasi bisnis. lalu didatangkanlah suku Jawa sebagai kuli perkebunan. Akhirnya medan menjadi tempat bisnis, melupakan budaya menguatkan keamanan. Untuk selingan ditemukanlah permainan trup. Trup juga permainan yang unik, karena angka tertinggi adalah 3 yang artinya Hukum. Filosofisnya hukum merupakan kekuatan tertinggi. Karena banyak melahirkan sastrawan, musikus, perupa dan teaterawan Medan disejajarkan sebagai kota budaya. Sekarang Medan berubah menjadi kota Buaya. Maka muncul istilah buaya Deli. filosofis buaya ialah: tangkap, pelintir, telan. Perubahan ini terjadi karena tidak ada satu pejabat pun yang peduli pada kebudayaan. Serta minimnya infrastruktur pendidikan. Diperparah dengan persfektif hidup masyarakat Medan yang berorientasi pada ekonomi, maka hilanglah budaya waaupun banyak etnis menghuni Medan. Mereka hanya berpikir "proyek" Dahulu, Medan sempat punya gedung kesenian, yaitu di jalan Bali. Akibat keganasan pejabat maka habislah gedung kesenian itu. kesimpulan, ORANG MEDAN MASIH PRIMITIF. BUKTINYA TIDAK MENGHARGAI SEJARAH. salah satu contoh Pohon TREMBESI di lapangan merdeka dihabisi pelan-pelan. Akibatnya banyak orang biadab menghuni kota Medan yang cara berpikirnya: Dapat, Tangkap, Makan. Sama seperti buaya. Nah, bagaimana pula para pekarya MCAF II yang cara berpikirnya "proyek" juga? yang menomor seratus kan suatu proses dan "riset" untuk menemukan ide kreatif yang berpijak di bumi? Apakah para pekarya seperti itu punya tanggung jawab moral? Ataukah mereka berkarya hanya sekedar selingan mengisi waktu luang? jawabnya, ada di nurani kesenian kita masing-masing. salam budaya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar