I.
SEPUTAR
TEATER RUMAH MATA
Dari rahim gelisah,
Teater Rumah Mata lahir. Teater Rumah Mata adalah metamorfosa Teater
Lentera STIKP Medan pada tahun 2003 didirikan Agus Susilo, Yusra Lubis, Sri
Wanna Sari, Iziet dan Suri. Di Teater Lentera STIKP Medan, mereka adalah kubu
yang menghendaki teater bergerak di luar kampus. Sementara kubu yang lain tetap
berada di kampus. Dalam proses menjadi teater professional, Teater Rumah Mata
mengalami jatuh bangun dan regenerasi anggota.
Tahun 2003, Teater Rumah Mata mementaskan Naskah
Monolog Pohon Tanpa Daun, Karya: Agus Susilo, Sutradara: (Alm). Monos RA di
Taman Budaya Medan. Tahun 2004, Teater Rumah Mata mementaskan Naskah Drama
Metamorfosa Darah Aurat, karya/sutradara: Agus Susilo, aktor: Yusra Lubis, Sri
Wanna Sari, Iziet, Sidratul Muntaha, dan Tetty Astuti di Taman Budaya
Medan. Di tengah proses kreatif yang
monoton, Teater Rumah Mata merangkak dan berusaha tegak. Namun apa lacur, baru
dua kali mentas kami digilas virus kesenian.
Tahun 2005, kami menarik diri dari blundernya
proses kreatif teater. Bukan berarti mati! Kami menggali instropeksi. Pada
proses selanjutnya Teater Rumah Mata lebih memilih bergerak di daerah pinggiran
kota Medan dengan fokus membentuk kader-kader sejak usia dini. Selama lima
tahun Teater Rumah Mata ‘puasa’ dari hangar bingar dinamika kesenian di
panggung teater Sumatera Utara.
Hiruk pikuk kesemrawutan negeri ini yang gila
popularitas membuang kualitas. Kedaulatan bangsa kita biarkan diremas-remas.
Bencana yang bertubi-tubi memberi dampak psikososial terhadap masyarakat
Indonesia. Wajah buram negeri terlukis getir di nurani.
Kami melakukan inovasi interpretasi terhadap
teater. Interpretasi itu kemudian menjadi Fundamen Teater Rumah Mata:
TEATER MERUPAKAN MEDITASI KRITIS TERHADAP DINAMIKA
MULTIDIMENSI KEBUDAYAAN YANG BERDIALEKTIKA MENEMBUS RUANG DAN WAKTU DENGAN
IDEOLOGI PENCERAHAN YANG AVANT GARDE, REVOLUSIONER, MEMBUMI DAN TRANSENDEN.
Akhirnya di
2010, Teater Rumah Mata lahir kembali menjemput jiwa-jiwa yang resah. Mementaskan naskah Embun di Daun Kering,
karya/sutradara: Agus Susilo di Taman Budaya Medan. Mementaskan Uji coba naskah
monolog AYUN, karya/sutradara: Agus Susilo, aktor: Sidratul Muntaha di Taman
Budaya Medan. Tahun 2011, Teater Rumah Mata mengikuti program KALA SUMATERA II
dan mementaskan naskah Jendela-Jendela, karya: Sakinah Annisa Mariz, sutradara:
Sidratul Muntaha, aktor: Agus Susilo, Ayu Lestari dan Sidratul Muntaha di
Lampung dan Jakarta.
Mengutip ungkapan sesepuh teater modern Indonesia
(Alm. WS Rendra); Perjuangan adalah perwujudan kata-kata. Maka, kami
tidak ingin banyak berkata, melainkan banyak berkarya!


Tidak ada komentar:
Posting Komentar