Sabtu, 28 Januari 2012

TEATER RUMAH MATA


I.             SEPUTAR TEATER RUMAH MATA
Dari rahim gelisah,  Teater Rumah Mata lahir. Teater Rumah Mata adalah metamorfosa Teater Lentera STIKP Medan pada tahun 2003 didirikan Agus Susilo, Yusra Lubis, Sri Wanna Sari, Iziet dan Suri. Di Teater Lentera STIKP Medan, mereka adalah kubu yang menghendaki teater bergerak di luar kampus. Sementara kubu yang lain tetap berada di kampus. Dalam proses menjadi teater professional, Teater Rumah Mata mengalami jatuh bangun dan regenerasi anggota.
Tahun 2003, Teater Rumah Mata mementaskan Naskah Monolog Pohon Tanpa Daun, Karya: Agus Susilo, Sutradara: (Alm). Monos RA di Taman Budaya Medan. Tahun 2004, Teater Rumah Mata mementaskan Naskah Drama Metamorfosa Darah Aurat, karya/sutradara: Agus Susilo, aktor: Yusra Lubis, Sri Wanna Sari, Iziet, Sidratul Muntaha, dan Tetty Astuti di Taman Budaya Medan.   Di tengah proses kreatif yang monoton, Teater Rumah Mata merangkak dan berusaha tegak. Namun apa lacur, baru dua kali mentas kami digilas virus kesenian.
Tahun 2005, kami menarik diri dari blundernya proses kreatif teater. Bukan berarti mati! Kami menggali instropeksi. Pada proses selanjutnya Teater Rumah Mata lebih memilih bergerak di daerah pinggiran kota Medan dengan fokus membentuk kader-kader sejak usia dini. Selama lima tahun Teater Rumah Mata ‘puasa’ dari hangar bingar dinamika kesenian di panggung teater Sumatera Utara.
Hiruk pikuk kesemrawutan negeri ini yang gila popularitas membuang kualitas. Kedaulatan bangsa kita biarkan diremas-remas. Bencana yang bertubi-tubi memberi dampak psikososial terhadap masyarakat Indonesia. Wajah buram negeri terlukis getir di nurani.
Kami melakukan inovasi interpretasi terhadap teater. Interpretasi itu kemudian menjadi Fundamen Teater Rumah Mata:
TEATER MERUPAKAN MEDITASI KRITIS TERHADAP DINAMIKA MULTIDIMENSI KEBUDAYAAN YANG BERDIALEKTIKA MENEMBUS RUANG DAN WAKTU DENGAN IDEOLOGI PENCERAHAN YANG AVANT GARDE, REVOLUSIONER, MEMBUMI DAN TRANSENDEN.
 Akhirnya di 2010, Teater Rumah Mata lahir kembali menjemput jiwa-jiwa yang resah.  Mementaskan naskah Embun di Daun Kering, karya/sutradara: Agus Susilo di Taman Budaya Medan. Mementaskan Uji coba naskah monolog AYUN, karya/sutradara: Agus Susilo, aktor: Sidratul Muntaha di Taman Budaya Medan. Tahun 2011, Teater Rumah Mata mengikuti program KALA SUMATERA II dan mementaskan naskah Jendela-Jendela, karya: Sakinah Annisa Mariz, sutradara: Sidratul Muntaha, aktor: Agus Susilo, Ayu Lestari dan Sidratul Muntaha di Lampung dan Jakarta.
Mengutip ungkapan sesepuh teater modern Indonesia (Alm. WS Rendra); Perjuangan adalah perwujudan kata-kata. Maka, kami tidak ingin banyak berkata, melainkan banyak berkarya!



Tidak ada komentar:

Posting Komentar